Love for All Hatred for None
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Januari 2010

Superioritas Al-Quran?

Jika ada lawan Islam yang (merasa) keberatan atas superioritas atau lebih baiknya Al-Qur’an dibandingkan semua Kitab wahyu lainnya, --Hal ini (keberatan tsb) seakan mengukuhkan bahwa Kitab-kitab lainnya itu mutunya lebih rendah (daripada Al-Quran), padahal isinya bersumber pada Tuhan yang sama. Oleh karena itu seharusnya tidak ada masalah superioritas atau inferioritas di antara Kitab-kitab tersebut,-- maka jawaban untuk itu ialah bahwa dari sudut pandang pewahyuan memang semua Kitab itu sama adanya, namun berkaitan dengan kuantitas isi dan penyempurnaan keimanan yang dikandungnya ternyata yang satu lebih tinggi dari yang lain. Dari sudut pandang ini, jelas bahwa Al-Qur’an lebih unggul dibanding semua Kitab samawi lainnya, karena Kitab-kitab tersebut tidak mengandung petunjuk untuk menyempurnakan agama seperti masalah-masalah yang berkaitan dengan Ketauhidan Ilahi, penyangkalan segala bentuk syirik, obat penawar bagi penyakit-penyakit ruhani, argumentasi untuk menolak agama-agama palsu serta bukti-bukti dari aqidah yang benar, sebagaimana dikemukakan secara tegas dalam Al-Qur’an. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 74, London, 1984)


Selengkapnya...

Senin, 13 April 2009

Pintu Kedua yang Dibukakan Al-Quran

Pintu kedua pemahaman Ilahi yang dibuka lebar oleh Al-Qur’an adalah mutiara hikmah intelektual. Karena sifatnya yang luar biasa ini, Al-Quran dapat dianggap sebagai mukjizat intelektual. Bentuknya ada berbagai macam.


(1) Pertama; pengetahuan wawasan keimanan. Maksudnya semua wawasan luhur berkaitan dengan keimanan dan semua kebenaran sucinya, serta mutiara hikmah pengetahuan tentang Ilahi yang dibutuhkan di dunia guna penyempurnaan batin manusia, semuanya tersedia di dalam Al-Qur’an. Begitu pun dengan semua keburukan batin yang merangsang munculnya keinginan melakukan dosa dan nafsu yang melembarinya, serta cara-cara pensucian batin tersebut berserta semua tanda-tanda, karakteristik dan sifat-sifat dari akhlak luhur (maupun yang buruk semuanya telah dikupas di dalam Al-Quran). Tidak ada seorang pun yang akan mampu mengemukakan kebenaran, hikmah Ke-Ilahian, cara-cara mencapai Tuhan, bentuk atau disiplin suci ibadah Ilahi lainnya yang belum termaktub di dalam kitab suci Al-Qur’an.

(2)Kedua; Di dalam mukjizat intelektual ini (al-quran) terkandung juga pengetahuan tentang sifat-sifat batin dan psikologi secara komprehensif. Sehingga mereka yang mau berpikir, pasti akan sampai pada kesimpulan, bahwa kitab ini bukanlah hasil kerja siapa pun kecuali Allah yang Maha Perkasa.

(3)Ketiga, Di dalam Al-Quran terkandung ilmu mengenai awal dunia, akhir dunia dan hal-hal tersembunyi (gaib) lainnya yang merupakan bagian pokok dari firman-Nya. Allah Maha Mengetahui tentang hal-hal tersembunyi sehingga hati manusia akan tenteram dibuat-Nya.

Semua pengetahuan tersebut secara terperinci banyak sekali ditemui di dalam kitab suci Al-Qur’an. Tidak ada kitab samawi lainnya yang mampu menyamainya. Disamping itu Al-Qur’an juga mengungkapkan pengetahuan keimanan dari subyek lain dengan cara indah. Kitab tersebut tetap memperhatikan logika, fisika, filosofi, astronomi, psikologi, medikal, matematika dan pengetahuan tentang komposisi yang digunakan untuk menguraikan dan menjelaskan pengetahuan mengenai keimanan, agar tidak sulit dipahami, mudah menarik konklusi atau untuk menyangkal keberatan dari orang-orang yang bodoh. Dengan kata lain, semua subyek tersebut dikemukakan kitab suci Al-Qur’an untuk kepentingan keimanan manusia dengan cara sedemikian rupa, sehingga setiap bentuk intelektualitas manusia akan dapat menyerap kemaslahatannya.


Selengkapnya...

Kamis, 19 Maret 2009

Pintu Pertama yang Dibukakan Al-Quran

Kitab suci al-Qur’an membukakan tiga pintu bagi pemahaman kebenaran.
Yang pertama adalah pintu nalar atau logika. Daya nalar manusia secara sempurna telah dikembangkan untuk mengenali eksistensi Tuhan dan sifat-sifat-Nya dalam Penciptaan, ke-Esaan, Kekuasaan, Rahmat dan sifat tegak dengan Dzat-Nya sendiri. Dalam penggunaan daya nalar itu juga ikut berperan logika, fisika, medikal, astronomi, matematika, filosofi dan metoda argumentasi. Sehingga masalah-masalah yang sulit telah bisa dipecahkan.

Metoda ini luar biasa dan merupakan mukjizat penalaran. Para filosof terkenal yang menemukan logika dan meletakkan dasar-dasar dari filosofi serta menyibukkan diri mereka dengan fisika dan astronomi, nyatanya tidak sanggup memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk mendukung keimanan mereka. Tidak juga mereka mampu memperbaiki kesalahan mereka atau memasukkan kemaslahatan keagamaan kepada yang lainnya. Bahkan sebagian besar dari mereka malah menjadi atheis atau lemah keimanannya, sedangkan mereka yang mempercayai adanya Tuhan, lalu mencampur-adukkan kesalahan dengan kebenaran, yang tidak suci dengan yang najis, akhirnya mereka juga tersesat. Dengan demikian merupakan suatu mukjizat bahwa logika Ilahi ini tidak mengandung kesalahan. Dan dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan mulia yang belum pernah dicapai manusia sebelumnya.

Adalah sebuah bukti yang cukup bahwa pernyataan-pernyataan al-Qur’an mengenai eksistensi Tuhan dan sifat-sifat penciptaanNya, ke-Esaan serta sifat-sifat sempurna lainnya begitu komprehensif, sehingga tidak mungkin diungguli dan tidak juga manusia akan mampu memberikan argumentasi baru lainnya. Jika ada yang meragukan hal ini, dipersilahkan yang bersangkutan mengajukan penalaran intelektual untuk mendukung eksistensi atau Ketauhidan Ilahi (versinya). Dan kami nanti akan menunjukkan bahwa argumentasinya sudah ada di dalam al-Qur’an bahkan lebih baik lagi. Pernyataan dan pujian atas Kitab suci al-Qur’an ini tidak semata-mata hanya omongan saja, tetapi sesungguhnya merupakan kenyataan. Tidak akan ada seorang pun mampu mengajukan argumentasi baru yang belum diungkapkan di dalam al-Qur’an. Di banyak tempat, al-Qur’an sendiri menyatakan sifat komprehensifitas dirinya sendiri. (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 2, hal. 72-79, London, 1984). (bersambung ke pintu kedua....)


Selengkapnya...

Rabu, 18 Maret 2009

Cara Al-Quran Dipelihara

Ada sebuah janji dalam al-Qur’an bahwa Allah s.w.t. akan memelihara Islam saat menghadapi bahaya dan cobaan seperti diungkapkan dalam ayat:
“Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan peringatan ini dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya”. (QS.Al-Hijr 15:10).
Sesuai dengan janji tersebut maka Allah Maha Perkasa akan menjaga firman-Nya dengan empat cara.
Pertama; Melalui daya ingat orang-orang yang telah menghafal seluruh isi al-Qur’an sehingga keutuhan teks dan urutannya tetap terjaga. Pada setiap zaman terdapat ratusan ribu orang yang menghafalkan al-Qur’an di luar kepala. Sehingga apabila ada yang menanyakan satu kata saja (dari isi al-Quran), mereka dapat mentilawatkan kalimatnya. Melalui cara ini al-Qur’an dipelihara terhadap penyimpangan verbal sepanjang masa.

Kedua; Melalui ulama-ulama akbar di setiap zaman yang memperoleh pemahaman Al-Qur’an. Mereka menafsirkan al-Qur’an dengan bantuan al-Hadits. Sehingga dengan cara tersebut firman Tuhan terpelihara dari penyimpangan arti dan penafsirannya.

Ketiga; Melalui para cendekiawan (muslim) yang mengungkapkan ajaran al-Qur’an berdasarkan mantiq (logika). Dengan demikian (membantu) memeliharanya terhadap serangan para filosof yang berpandangan dangakal (kebendaan).

Keempat; Melalui mereka yang mendapat karunia keruhanian (luar biasa dari Allah swt). Sehingga orang-orang seperti ini di sepanjang zaman senantiasa menjaga firman suci Tuhan terhadap serangan orang-orang yang menyangkal mukjizat dan wawasan keruhanian. (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 288, London, 1984). sumber: http://ahmadiyya.or.id


Selengkapnya...

Minggu, 15 Maret 2009

Al-Quran Kitab Universal

Kitab yang diwahyukan pada awal penciptaan secara logika tidak mungkin merupakan Kitab yang sempurna. Kitab yang ada tentunya seperti buku pelajaran abjad atau alfabet bagi anak-anak yang baru mengenal huruf. Pasti untuk pelajaran yang bersifat sangat mendasar demikian tidak diperlukan kemampuan yang luar biasa. Ketika pengalaman umat manusia berkembang dan banyak dari antara mereka yang kemudian menyimpang, diperlukan petunjuk yang lebih terinci.
Apalagi ketika kegelapan ruhani sudah demikian meluas dan kalbu manusia menjadi terjerat dalam berbagai bentuk penyelewengan intelektual dan pengamalan. Pada saat seperti itu diperlukan ajaran yang lebih tinggi dan sempurna sebagaimana yang dibawa Al-Qur’an.
Di masa awal sejarah manusia tidak diperlukan petunjuk bermutu tinggi karena batin manusia waktu itu masih sederhana dan belum ada kegelapan atau kedurhakaan mengendap di hati mereka. Ajaran yang luhur diperlukan dalam Kitab yang diturunkan di masa penyelewengan yang sangat, guna perbaikan manusia yang terlanjur telah menganut aqidah-aqidah palsu dan dimana perilaku kejahatan telah menjadi kebiasaan sehari-hari. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 70, London, 1984).
* * *
Memang benar bahwa manusia dikaruniai dengan sebuah Kitab yang diwahyukan pada awal penciptaan, namun Kitab itu bukanlah Veda. Mengatakan bahwa Kitab Veda sekarang ini sebagai wahyu dari Allah yang Maha Kuasa, sama saja dengan menghina Wujud-Nya yang Maha Suci. Kalau ada yang bertanya mengapa hanya satu Kitab saja yang diturunkan bagi manusia di masa awal itu dan mengapa tiap bangsa tidak diberikan masing-masing satu Kitab tersendiri, maka jawabannya adalah karena pada awalnya jumlah manusia masih sangat sedikit sehingga bahkan belum bisa dikatakan satu bangsa, sehingga satu Kitab saja sudah cukup bagi mereka.
Ketika umat manusia kemudian berkembang dan menyebar ke seluruh dunia dimana penghuni dari suatu daerah menjadi sebuah bangsa tersendiri, lalu karena faktor jarak tidak memungkinkan lagi satu bangsa tetap berhubungan dengan bangsa lain, kebijakan Ilahi menetapkan bahwa saat itu seharusnya sudah ada Rasul dan Kitab yang tersendiri bagi masing-masing bangsa. Setelah manusia berkembang lebih lanjut dan kemudian tercipta komunikasi beserta sarananya di antara bangsa-bangsa maka Allah yang Maha Agung menetapkan bahwa sewajarnya mereka sekarang menjadi satu bangsa dimana mereka bersama-sama memperoleh satu Kitab saja sebagai pedoman hidup. Dalam Kitab tersebut terkandung perintah bahwa begitu Kitab itu sampai di berbagai belahan bumi, manusia setempat wajib menerima dan mengimaninya. Kitab tersebut bernama Al-Qur’an yang diwahyukan guna mencipta perhubungan di antara berbagai daerah dan bangsa.
Kitab-kitab yang diwahyukan sebelum Al-Qur’an terbatas masing-masing hanya bagi satu bangsa saja. Kitab samawi dan para Rasul telah muncul di antara bangsa Syria, Persia, India, Cina, Mesir dan Roma dimana ajaran yang dibawanya hanya khusus bagi bangsa dimana mereka diturunkan. Yang terakhir dari semua Kitab itu adalah Al-Qur’an yang menjadi Kitab yang bersifat universal dan tidak terbatas bagi satu bangsa saja melainkan bagi seluruh penduduk bumi. Kitab itu diturunkan dengan tujuan antara lain menyatukan seluruh bangsa-bangsa menjadi satu kesatuan. Sekarang ini sudah ada cara-cara dan sarana guna mempersatukan bangsa-bangsa tersebut. Hubungan antar bangsa yang menjadi dasar untuk mengkonversi umat manusia menjadi satu kesatuan telah menjadi demikian mudah dimana tadinya perjalanan membutuhkan waktu bertahun-tahun, sekarang ini bisa dicapai dalam hitung harian. Begitu juga komunikasi yang tadinya bisa mengambil waktu setahun untuk mengkontak satu negeri dengan negeri lain, sekarang ini cukup dalam satu jam saja.
Demikian dahsyatnya revolusi kemajuan yang diikuti derasnya perubahan dalam arus sungai kebudayaan, sehingga menjadi jelas bahwa memang menjadi maksud Tuhan agar segala bangsa yang tersebar di muka bumi ini menjadi satu kesatuan. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an dimana memang hanya Kitab ini saja yang menyatakan bahwa ajarannya itu untuk seluruh bangsa di dunia, sebagaimana dikemukakan dalam ayat:
“Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku Rasul kepada kamu sekalian”“. (S.7 Al-Araf:159).
Di tempat lain dinyatakan:
“Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh umat”. (S.21 Al-Anbiya:108).
Begitu pula dengan ungkapan dari ayat:
“Maha beberkat Dia yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi sekalian alam”. (S.25 Al-Furqan:2).
Tidak ada Kitab samawi lainnya sebelum Al-Qur’an yang mengajukan klaim seperti itu. Masing-masing Kitab tersebut membatasi dirinya hanya bagi bangsanya sendiri. Bahkan Nabi yang dipertuhan umat Kristen juga menyatakan bahwa beliau diutus hanya bagi domba-domba Israil yang hilang.8 Kondisi dunia pada saat kedatangan Hadzrat Rasulullah s.a.w. juga telah membenarkan klaim Al-Qur’an sebagai pesan Ilahi yang bersifat universal dimana pintu penyebaran kebenaran telah dibukakan.
(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 74-77, London, 1984).


Selengkapnya...

 
Seruan Hati - Template ini design ulang oleh Yusuf Awwab